MIxtape: Summer in Paris

paris

“In the morning light, I remembered how much I loved the sound of wind through the trees. I laid back and closed my eyes, and I was comforted by the sound of a million tiny leaves dancing on a summer morning.” ― Patrick Carman

Kinandari sedang terlelap saat saya menyelesaikan mixtape ini, sepanjang musim panas (jieeh musim kemarau sih tepatnya) di Jakarta ini saya lagi senang-senangnya dengerin lagu-lagu berbahasa Perantjis. Sila cek di 8tracks saya

  1. À Quoi ça Sert L’amour by Edith Piaf Et Theo Sarapo

2. Quelqu’un M’a Dit by Carla Bruni

3. La Meme Histoire by Feist

4. La Mer by Charles Trénet

5. Le Festin by Camille

6. Comme Des Enfants by Coeur De Pirate

7. Tombé Sous Le Charme by Christophe Maé

8. Paris Je T’aime by Elisabeth Anais

9. J’aime A Nouveau by Zaz

 

 

Belajar dari Kinandari

zkinan2

You learn more about yourself through your child, I guess. – Heath Leadger

Menjadi orang tua itu tidak mudah. Apalagi menjadi seorang ibu, saya sempat kaget dengan dunia yang baru ini. Walaupun banyak tempat untuk bertanya bagaimana sih menjadi orang tua yang baik tapi tetap saja kami merasa clueless. Alhasil awal-awal menjadi orang tua, saya dan suami benar benar tidak bisa ‘memegang’ Kinandari dengan baik karena rasa panik yang datang ketika Kinan menangis, semua diserahkan kepada ibu dan ibu mertua saya.

ada satu siang saat Kinan tertidur dan saya duduk disampingnya sambil memperhatikan kemudian berpikir, wah kalau apa-apa diserahkan ke orang tua kami terus-terusan nanti yang ada kami malah menjadi orang tua yang tidak mandiri dan bisa-bisa nanti Kinan malah ga deket sama kami sebagai orang tuanya. Lalu kami pelan-pelan belajar untuk merawat Kinan tanpa bantuan siapapun, mulai belajar untuk mengerti apa yang dimau Kinan ketika menangis: apakah lapar, apakah ingin diganti popoknya, apakah ingin diajak main atau mau tidur, apakah ingin dipeluk dan digendong. then, the things get better day by day. Sekarang kami merawat Kinan sepenuhnya tanpa harus menyerahkan segala sesuatunya kepada orang tua kami.

Lucu rasanya kalau mengingat kembali awal kami menjadi orang tua, tapi ya setiap orang pasti belajar untuk lebih baik dan kami menjadi lebih baik karena Kinandari mengajari banyak hal.

zkinan

Dari Kinandari kami belajar; untuk sabar, untuk mencintai sepenuh hati, untuk selalu tersenyum, untuk bersyukur, untuk mandiri, untuk berjuang, untuk menjadi ikhlas.

Terima kasih nak, sudah mau mengajarkan Ibu dan Ayah banyak hal yang tidak kami ketahui dan sadari sebelumnya.

Regards,

Naaj Wicaksono

 

Bahagia yang berbeda

lagi pengen ngeblog random thoughts engga apa-apa lah ya, jadi tadi pas abis nemenin Kinandari tidur saya liat sekelebat postingan temen-temen di path dan instagram. Kebanyakan dari mereka yang masih single posting foto saat ngopi-ngopi seru, melakukan hobi dan jalan-jalan hore. Sedangkan temen-temen yang baru nikah atau pacaran ya posting saat mereka jalan atau makan sama pasangan masing-masing ditempat-tempat yang lagi heitz di Jakarta Raya ini.

Lalu saya kangen hal-hal seperti itu, eh tapi bukan kangen sama status single nya loh ya hahaha tapi lebih ke kegiatannya: Kangen nonton bioskop sama suami, kangen ngopi sambil ngobrol seru sama temen-temen, kangen me time ke salon sendirian, kangen absen di tempat yang lagi heitz di Jakarta dan kangen keluar rumah jalan kemanapun sama suami sampe malam tanpa harus buru-buru pulang, ah, terlalu banyak hal yang dikangenin. Hal-hal kaya gitu tuh yang dulu bikin saya bahagia banget.

Saya sempat terdiam sebentar kemudian berpikir apa saya masih bahagia kalau masih melakukan hal-hal tersebut sekarang? semuanya itu tentu tidak sebanding dengan kebahagiaan ketika saya melahirkan Kinandari dan menyaksikan suami saya dengan siaga ( dan kurang tidur) ngejagain saya di rumah sakit. Ya, bahwa rasa bahagia iu tidak pernah sama untuk masing-masing orang, seiring dengan bertambahnya umur dan berubahnya status maka makna dari rasa bahagia untuk saya pun bergeser.

Kalau dulu saya bahagia banget bisa berlama lama me-time perawatan di salon, sekarang saya bahagia ketika berkomunikasi dengan Kinandari sambil memberinya ASI atau sekedar mencium Kinandari dengan harum tubuhnya di pagi hari. Kalau dulu saya bahagia menghabiskan sebagian uang saya untuk beli baju-baju dari merk ternama dan mahal (ok another confession, i’m a shopaholic, very bad) maka sekarang saya sangat bahagia kalau bisa beli popok Kinandari sebelum kehabisan stocknya dirumah haha (ribet buk kalau udah keabisan stock popok dirumah apalagi abisnya pas tengah malam ye khaan) Kalau dulu saya seneng makan di tempat-tempat yang happening di Jakarta, sekarang saya bahagia banget hanya dengan makan bubur ayam langganan pinggir jalan sama suami, ibu dan anak saya.

Bahkan pelukan hangat sebelum tidur dari suami yang biasanya dia lakukan sambil membisikkan “makasih ya ibu udah ngerawat Kinan dengan baik.” aja bisa bikin saya bahagianya ga keruan. Ngeliat suami saya main sama Kinandari bisa bikin saya bahagia terharu. Pada intinya saya sangat bahagia jika hal yang saya lakukan berhubungan dengan keluarga kecil saya.

yang saya pahami sekarang adalah bahagia saya lebih sederhana, tanpa harus banyak drama dan tanpa harus memamerkannya ke khalayak banyak.

Barusan saya berhenti menulis dan menoleh ke arah Kinandari yang terlelap, dan menyadari bahwa inilah kebahagiaan saya; berhenti bekerja, mengabdikan diri menjadi istri dan seorang ibu. Saya sudah membayangkan betapa berkali lipat bahagianya saya ketika nanti Kinandari dapat memanggil saya dengan sebutan “Ibu..” it’s priceless..

Selesai posting tulisan ini, saya jamin pasti saya langsung ciumin Kinandari. Entah kenapa harum bayi di tubuh Kinan yang menguar bikin saya selalu kangen sama Kinan, tapi kalau dia udah bangun dan cranky ya teteup saya kerepotan sendiri haha. 

Regards,

Naajmi

Tentang melahirkan Kinandari Parasayu

Phototastic-28_08_2015_94c567ad-af57-4274-ab44-bc73cbb3a4db(1)

Hello! I’m sorry for the long pause on my blog. I’m currently adjusting to my newbie mother life and actually enjoying it! It’s been two weeks since I gave birth to my daughter, Kinandari, So let me share you a little bit about her birth story; about all the waiting, tears, and laugh. My daughter was born on 21 August 2015 at 11.17 am, weighing 3,7 kilos and 50 cm in height. Her name is Kinandari Parasayu. Everytime I look at her, I’m still amazed of everything.

Awalnya saya merencanakan untuk persalinan normal, hal tersebut pun diamini suami dan Obgyn saya di RSIA Hermina Galaxy; Dr. Rahayuning Indit Pramesti SpOg kebetulan beliau dokter yang pro persalinan normal, didukung posisi Kinan yang sudah sangat siap untuk dilahirkan normal.

Di kehamilan saya yang ke 38 minggu, Dr Ayu sudah memberitahukan bahwa posisi bayi saya sudah siap untuk dilahirkan normal, kepalanya sudah turun ke bawah dan alhamdulillah placenta juga ketuban sangat bagus, tidak ada lilitan tali pusar. Saat itu juga dilakukan pemeriksaan dalam oleh dokter karena saya sudah mengeluh terdapat flek, ketika diperiksa ternyata sudah bukaan satu tapi dinding rahim masih tebal jadi Dr. Ayu menyarankan saya untuk memperbanyak induksi alami agar dinding rahimnya melunak. Ketika di lakukan CTG pun ternyata hasilnya kontraksi saya sudah 100 persen, eh tapi kok saya ga ngerasa apa-apa ya selama ini haha. Jadi tinggal tunggu bukaan berikutnya aja dan persalinan siap dilaksanakan.

Minggu ke 39 saya pun kembali lagi untuk kontrol, dan hasilnya ketika dicek masih sama yaitu bukaan 1 dengan dinding rahim masih tebal. Sempat sedih juga karena udah melakukan induksi alami tapi kok ya ga melunak juga ya akhirnya Dr. Ayu menyarankan saya untuk sering-sering jalan pagi. I kept wondering how labour contractions felt like? Everytime I felt a few mild contractions, I really hoped they got more stronger and more regular, tapi kenyataannya hanya braxton hicks.

And time passed by… I was 40 weeks along! my due date! pas dicek dalam lagi oleh Dr. Ayu ternyata belum ada perkembangan, masih bukaan 1 dan dinding rahim masih tebal (!!!) pun ketika itu tidak lagi saya temukan flek seperti minggu-minggu sebelumnya ataupun pecah ketuban. Akhirnya Dr. Ayu bilang kalau minggu depan ga ada penambahan bukaan juga ya harus induksi karena kepala bayi udah turun banget. Minggu depannya balik lagi ke RSIA Hermina Galaxy dengan hasil yang sama yaitu bukaan satu dan dinding rahim masih tebal.

Saya pun harus mempersiapkan mental untuk diinduksi (soalnya udah banyak banget yang bilang di induksi itu more painful than anything) segera saya langsung masuk ruang observasi persalinan, dipasangin infus dan dimasukkan obat induksinya juga dilakukan CTG. Selama di ruang obeservasi, suami ga pernah absen nungguin disamping sambil ngajak becanda, ngobrol, gosipan dan apapun yang bisa bikin saya nyaman juga ketawa. i’m blessed to have him. Thank you le husband for your support!

tick…tock…tick…tock

Induksi berlangsung sehari semalam. Diinduksi hari kamis siang tanggal 20 Agustus, tapi sejujurnya saya tidak merasakan apa yang orang banyak bilang bakal sakit banget, malah saya engga merasakan apa-apa. Berkali-kali suster dan suami saya bertanya apa saya ngerasain mulas atau kontraksi? jawaban saya cuma satu; “engga sama sekali tuh.” Suami saya bahkan sering banget nanya apa saya kesakitan tapi saya jawab cengengesan engga sama sekali karena faktanya memang saya engga merasakan apa apa. Hasil CTG pun ternyata tidak ada kontraksi sama sekali dan gerakan bayi juga biasa aja, akhirnya disuruh suster buat tidur miring ke arah samping kiri tapi tetep aja engga ngaruh, benar-benar engga ngerasain apa-apa. Sampai akhirnya diperiksa dalam oleh suster, hasilnya? masih bukaan satu cuma dinding rahim lumayan lah mulai menipis tapi ga tipis-tipis banget (Pfftt…) akhirnya hari jumat sekitar jam 5 subuh sesudah sarapan yang sangat kesubuhan banget pun saya harus melakukan CTG lagi dan gerakan bayi mulai lemah. Oke saya mulai khawatir. Jam delapan pagi dicek dalam lagi pun ga ada perkembangan.  sampai akhirnya suster telpon Dr. Ayu.

jam 9 pagi suster masuk ke ruangan observasi bersalin dan bilang kalau Dr. Ayu memutuskan saya untuk di SC saja jam 11. Jujur aja sempat takut sama yang namanya operasi, takut akan rasa sakit sesudahnya, takut kesakitan pas proses penyembuhan, takut ini takut itu ah tapi waktu itu saya sadar bahwa bayi saya lebih penting dari apapun dan hari jumat itu pula bayi saya sudah genap 41 minggu juga gerakannya sudah mulai melemah. Keputusan diambil cepat, saya setuju SC. Saya dan suami pun setuju untuk menandatangani beberapa berkas untuk persiapan SC.

Setelah penandatanganan berkas, saya segera dibawa ke ruang pra operasi untuk diganti bajunya. Anehnya saat itu saya ga takut sama sekali, saya mikirnya semua demi bayi di perut saya. Saya sempat bertemu Dr. Ayu, kami ngobrol panjang lebar tentang induksi yang gagal sampai dia berkelakar “duh mba si dede ga mau keluar lewat pintu nih maunya lewat jendela kayanya.” saya pun tertawa.

Jam setengah sebelas saya dibawa ke ruang operasi. Jantung saya mulai berdegup kencang engga keruan, tapi ketika itu saya ingat pesan ibu saya sebelum saya masuk ruangan operasi untuk banyak-banyak berdzikir. Didalam ruang operasi kemudian saya dipindahkan ke meja operasi, dipasangi kain hijau pembatas diantara dada dan perut, ketika mau disuntik spinal saya sempat bilang ke dokter anastesi nya “Dok, boleh peluk tangan susternya ga? saya takut jarum suntik.” Dokter anastesi pun tertawa dan bilang “gapapa bu peluk aja mau dicakar sekalian juga susternya gapapa.” saya ikut tertawa seengganya bisa ngilangin kecemasan saya. Pas disuntik obat bius di tulang belakang dengan posisi duduk setengah menunduk ternyata ga sakit loh dan ga lama setelahnya saya merasakan kesemutan pada kaki saya, tanda mulai mati rasa. Setelah itu kateter dipasang yang ini rasanya kaya dicubit dibagian…ah udahlah ga perlu dibahas lah yaaa (” -_-)

selama persiapan operasi dan proses operasi pun, susternya nyalain musik jadi lumayan lah ya musiknya bikin saya jadi tambah rileks. Sebelum operasi Dr. Ayu ngajak semua yang ada diruangan operasi buat berdoa semoga diberikan kelancaran operasinya, saya mengamini dalam hati. Setelah itu saya udah ga tau lagi apa yang dikerjakan Dokter dan suster di balik kain pembatas sana, cuma bisa ngerasain perut kaya dikocok-kocok dan digoyang goyang, saya udah pasrah aja sambil liat kanan kiri dan ga berhenti dzikir. Sedikit lebih santai juga karena dibantu dengerin musik.

Ga lama kemudian saya dengar suara tangis bayi pecah, suara anak saya. Suara Kinan…And I felt a big relief as I heard her very big and loud cry. Waktu membeku, saya ikut menangis, sesenggukan. Proses ini pun menjadi semakin manis oleh lagu yang sedang diputar saat itu: Tompi – Jatuh cinta.

saya dengar Dr. Ayu dan dokter yang lain mengucap alhamdulillah. Bayinya perempuan dan sehat lengkap semua. Langsung IMD, saat IMD jujur saja saya ga bisa berenti nangis. Nangis  sesenggukan karena takjub dan terharu setelah kurang lebih 41 minggu nunggu akhirnya saya ngeliat anak saya juga. Saya menangis dan menangis, pikiran saya dilempar kembali ke saat dimana saya dan suami nunggu kapan dikaruniai anak, saat saya divonis bipolar dan kemungkinan untuk punya anak sangat kecil sampai akhirnya saya dan suami sudah di tahap dimana kita berdua udah pasrah dan ikhlas sampai semua akhir dari kepasrahan dan keikhlasan itu berbuah pada Tuhan yang mempercayakan Kinan kepada kami.

Pas IMD, saya dan Kinan sempat liat-liatan ok I admit that is the best moment in my life (bahkan ketika mengingat hal ini pun sampai sekarang saya masih nangis.). Setelah IMD, Kinan saya ciumin sebelum dibawa ke ruang bayi. After that? saya langsung teler, ngantuk banget mungkin karena efek obat bius yah. Saya langsung dipakaikan korset dan baju kemudian tetiba suhu ruangan menjadi sangat dingin sampai saya menggigil  hebat, dua kali muntah cairan nya berwarna kuning. Kemudian saya dibawa ke ruang pemulihan dan dipasangkan pemanas di balik selimut.

Di ruang pemulihan, saya lihat suami saya yang langsung menghampiri dan memegang tangan saya, sambil bilang “Ibuu, gapapa? ayah khawatir banget daritadi cemas. Alhamdulillah semua lancar. Ayah bangga sama ibu, udah liat perjuangan kamu dari hamil sampai melahirkan kaya gimana. Takut ah ngelawan istri.” saya terharu, jadi ingat perjuangan suami selama 9 bulan lebih sabar nemenin saya kemana-mana, selalu punya waktu untuk ngaji buat bayi yang ada di perut saya dan ikhlas menghadapi mood swing saya yang susah dijelasin. Yes, I got the best husband in the world.

Akhirnya saya tahu bagaimana rasanya melahirkan dan menjadi seorang ibu. Saya jadi mikir lagi kalau mau membantah ibu saya.  9 bulan lebih ada kehidupan lain didalam perut saya yang harus saya dan suami perjuangkan. Sekarang, setiap harinya saat saya terbangun di pagi hari dan terlelap di malam hari saya tidak pernah berhenti untuk bersyukur atas anugerah yang sangat amat paling berharga yang Tuhan berikan kepada saya dan suami saya setelah banyak hal yang kami lewati sebelumnya.

Kinandari Parasayu is a pure joy to our little family…

Regards,

Naajmi

More Books for Baby & Mom

IMG_0634

“So please, oh PLEASE, we beg, we pray, go throw your TV set away. And in its place you can install, a lovely bookshelf on the wall.” — Roald Dahl

Saya tuh suka banget sama yang namanya koleksi buku dan baca buku, dari kecil udah hobi banget. Nah kebetulan beberapa hari yang lalu saya sempat kepikiran untuk beli buku, hitung-hitung nambah koleksi nanti buat baby kalau mau dibacain dongeng sekaligus buat memperbanyakan koleksi buku saya. Jadi mulailah saya browsing di internet tentang toko buku yang menyediakan buku import yang lengkap. Soalnya di Bekasi sih rada susah ya buat nemuin tempat yang khusus jualan buku import bagus apalagi yang ceritanya klasik, jadi mau ga mau pesan online atau memang datang ke mall besar di Jakarta yang menyediakan toko buku dengan buku import bagus.

Jadi hari ini niat banget saya ngajak suami ke Books & Beyond di Lippo Mall Kemang Village. Karena sebelumnya saya sudah browsing di web mereka untuk buku apa saja yang akan saya beli. Books & Beyond jadi toko buku favorit saya karena selain koleksi mereka lengkap juga harganya terjangkau untuk buku import. Selain buku import juga mereka menyediakan buku-buku berbahasa indonesia, ada stationery juga sama toys.

IMG_0628

Oh iya hari ini juga saya lihat mereka lagi mengadakan promo 3 buku seharga Rp 99.000,- tapi kita ga tau bukunya itu buku apa saja karena semua dibundle jadi satu dan dibungkus sampul coklat terus digambar-gambar sampulnya, lucu banget. Jadi sesuai tag nya sih “Are you judge a book by it’s cover?” Kita dibikin penasaran sama isinya buku apa aja ya.  Saya sendiri pun penasaran karena kebanyakan kalau beli buku pasti yang saya lihat covernya duluan hahaha! cuma kali ini bener-bener deh semua covernya serupa cuma isinya aja berbeda.

Puas keliling keliling Books & Beyond akhirnya pilihan saya jatuh pada seri buku klasiknya “Andersen’s Fairytale” by H.C Andersen dan “The Secret Garden” nya Frances Hodgson Burnett. Sebenarnya banyak banget yang pengen saya beli, apalagi kalau lihat buku buku anak tuh gemes-gemes banget yah ada bedtime story, 50 princess story dll jadi pengen ngeborong. Cuma 2 aja deh dulu jadi biar ada alasan minggu depan balik lagi ke Books & Beyond bareng suami hehe.

Regards,

Naajmi Wicaksono